Ratusan Tahun Tertinggal, Tani Merdeka dan Kementan Dorong Klonalisasi Kopi Laga Lete Sumba Barat Daya.

Oleh: Redaksi
Rabu, 01 Jul 2026 | 06:07 WITA 3 menit baca 405 dibaca
Ratusan Tahun Tertinggal, Tani Merdeka dan Kementan Dorong Klonalisasi Kopi Laga Lete Sumba Barat Daya.
Ir. H. Nandang Sudrajad, MM dan Ibu Dr.Ir. Lely Nurhayati, M.SC. Sumber: Istemewa

SUMBA BARAT DAYA , nusaaksaranews.com — Petani kopi di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), dinilai masih tertinggal dalam menerapkan teknologi pertanian modern. Sejak era kolonial Belanda hingga Indonesia merdeka, budidaya kopi di wilayah ini masih dilakukan secara tradisional tanpa mengenal sistem klonal, sehingga varietas yang dihasilkan tidak seragam dan belum terdaftar secara resmi.

​Menyikapi kondisi tersebut, Sekjen Tani Merdeka Indonesia bersama jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan kunjungan kerja ke Desa Laga Lete, Kecamatan Wewewa Barat, Sumba Barat Daya, pada Rabu (1/7/2026) sekitar pukul 08.30 WITA.

Kunjungan ini membawa misi besar: memodernisasi tata kelola kopi demi mendongkrak kesejahteraan petani lokal.

​Hadir dalam kunjungan tersebut Sekjen Tani Merdeka Indonesia, Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP) Kementan Dr. Ir. Leli Nurhayati, M.Sc., Ir. Nandang Sudrajad, MM, serta didampingi oleh Direktur Perbenihan Perkebunan (Dirbun) dan Balai Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BPRP) Provinsi NTT.

​Putus Rantai Tradisional Lewat Teknik Klonal dan Sambung Pucuk.

​Selama ini, mayoritas kopi yang berkembang di SBD adalah jenis Robusta. Namun, karena ditanam menggunakan biji secara konvensional, jenis dan kualitas tanaman menjadi sangat beragam dan tidak konsisten.

​Untuk mengatasi hal itu, tim ahli mendorong penerapan sistem klonal guna penyeragaman tanaman. Melalui teknik pengembangan sambung pucuk, tanaman kopi diproyeksikan sudah dapat dipanen hanya dalam kurun waktu satu tahun. Setelah proses klonalisasi berhasil, varietas ini nantinya akan didaftarkan secara resmi dengan nama Kopi Laga Lete.

​"Petani SBD sudah cukup tertinggal dalam pengembangan kopi secara modern. Melalui pelatihan berkelanjutan dan kerja sama antarpetani, kita optimis kemajuan Robusta di wilayah ini bisa segera kita capai," ujar perwakilan tim ahli, Ilham.

​Bimbingan Teknis dari Hulu ke Hilir: Lawan Cengkeraman Tengkulak.

​Ir. Nandang Sudrajad, MM, menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspek penanaman, melainkan juga akan menggelar Bimbingan Teknis (Bintek) secara komprehensif dari hulu hingga ke hilir di Desa Laga Lete.

​Nandang mengimbau para petani untuk tidak lagi bergantung atau menyerahkan hasil panen mereka kepada tengkulak yang kerap memainkan harga di pasar.

Melalui Bintek ini, petani diharapkan mampu mengolah dan memasarkan produk mereka secara mandiri agar keuntungan mengalir langsung ke kantong petani.

​Sistem edukasi juga akan dibuat berkelanjutan. Petani yang nantinya telah menguasai materi Bintek akan didistribusikan untuk melatih dan menularkan ilmunya kepada petani kopi lain di SBD.

​Kolaborasi Demi Kesejahteraan Petani

​Keberhasilan program ini disadari memerlukan sinergi yang kuat. Oleh karena itu, keterlibatan aktif dari Dinas Pertanian setempat serta Ketua Tim Kerja (Katimker) SBD sangat diharapkan agar pelatihan berfokus penuh di Desa Laga Lete. Selama sesi teori dan praktik, para peserta juga diminta aktif bertanya agar transfer teknologi berjalan maksimal.

​Sementara itu, Kepala Pusat PVTPP Kementan, Dr. Ir. Leli Nurhayati, M.Sc., berharap intervensi teknologi dan edukasi ini tidak hanya berhenti di Desa Laga Lete, tetapi juga mampu menginspirasi serta mendorong kemajuan komoditas kopi di 7 kecamatan lainnya di Sumba Barat Daya.

​"Mudah-mudahan langkah awal ini bisa mendorong kejayaan kopi di Desa Laga Lete dan kecamatan lainnya. Harapan besar kami, melalui modernisasi ini, ekonomi bergerak naik dan Petani Kopi SBD bisa benar-benar sejahtera," pungkas Leli.#YK

R

Penulis Laporan

Redaksi

Jurnalis NusaAksaraNews yang berfokus pada liputan mendalam nasional.

Lihat Profil

Komentar

0 Tanggapan

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan pada artikel ini.

Komentar
Share WhatsApp