MEMBEDAH CERPEN: BUKAN UANG TUYUL. Oleh: Fren. Judul Cerpen: Bukan Uang Tuyul.

Oleh: Redaksi
Kamis, 17 Sep 2026 | 13:28 WITA 6 menit baca 19 dibaca
MEMBEDAH CERPEN: BUKAN UANG TUYUL.

Oleh: Fren.

Judul Cerpen: Bukan Uang Tuyul.
Drs. Fredy Malo. M.M. Sumber: Nusaaksaranews.com

Tambolaka,17/09/26,, nusaaksaranews.com — Pengantar.

Tautan cerpen Bukan Uang Tuyul dikirim kepada saya melalui akun Aster Bili Bora tanpa keterangan mengenai tujuan pengirimannya. Saya kemudian membaca cerpen tersebut dan mencoba membedah pesan serta kritik sosial yang terkandung di dalamnya.

Tulisan ini merupakan pembacaan dan interpretasi terhadap cerpen, bukan penilaian terhadap pribadi penulis maupun pihak-pihak tertentu.

Selamat membaca.

Cerpen Bukan Uang Tuyul menghadirkan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi cukup mengusik: ketika kehidupan berubah, apakah cara berpikir kita juga harus ikut berubah?.

Melalui kisah Kalli dan Bela, pembaca diajak melihat pilihan hidup yang tidak selalu sejalan dengan kebiasaan lama. Di tengah tuntutan kehidupan modern, keduanya memilih memikirkan masa depan keluarga dan pendidikan anak-anak mereka.

Dari sinilah kekuatan kritik sosial cerpen tersebut mulai terasa.

1. Isi dan Pesan Cerpen.

Tokoh Kalli dan Bela menggambarkan keluarga yang berani mengambil keputusan berbeda dari kebiasaan yang selama ini mereka kenal.

Perubahan tersebut pada awalnya dapat dipandang sebagai sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan atau bahkan dianggap pemali. Namun, cerpen kemudian memperlihatkan konsekuensi positif dari pilihan itu melalui keberhasilan Feli dan Bone menempuh pendidikan hingga menjadi dokter.

Pesan yang dapat ditangkap adalah bahwa tradisi dan perubahan tidak selalu harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan.

Tradisi memiliki nilai yang penting, tetapi kehidupan juga bergerak. Karena itu, setiap kebiasaan dapat terus dipertanyakan: apakah masih memberikan manfaat bagi keluarga dan kehidupan sosial, atau justru telah bergeser menjadi beban?.

Cerpen ini seakan mengajak pembaca untuk tidak hanya bertanya, "Apa yang biasa dilakukan?", tetapi juga, "Apa yang paling bermanfaat bagi masa depan?".

2. Kritik terhadap Gaya Hidup Konsumtif.

Salah satu pesan kuat yang dapat dibaca dari cerpen ini adalah kritik terhadap pola hidup yang terlalu menempatkan gengsi dan pengakuan sosial di atas kebutuhan dasar keluarga.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Sumba, pembaca dapat menghubungkan pesan tersebut dengan perdebatan mengenai pelaksanaan berbagai kegiatan adat dan besarnya pengeluaran yang terkadang menyertainya.

Namun, kritik tersebut tidak harus dimaknai sebagai penolakan terhadap adat atau budaya.

Justru yang menarik adalah pertanyaan mengenai batas antara mempertahankan nilai budaya dan mempertahankan kebiasaan yang sudah tidak lagi sesuai dengan kemampuan keluarga.

Ketika pengeluaran untuk sebuah kegiatan sosial atau adat menjadi terlalu berat, sementara kebutuhan pendidikan anak, kesehatan, pangan, tempat tinggal, atau kebutuhan penting lainnya belum terpenuhi, maka pilihan prioritas menjadi persoalan yang layak direnungkan.

Di titik inilah cerpen Bukan Uang Tuyul terasa relevan.

Kalli dan Bela, yang dalam cerita digambarkan tidak memiliki latar pendidikan tinggi, justru berani mengambil keputusan yang berbeda demi masa depan anak-anak mereka.

Pertanyaannya kemudian menjadi refleksi bersama:

Jika perubahan pola pikir dapat dimulai dari keluarga sederhana, mengapa perubahan itu terkadang terasa lebih sulit dilakukan oleh mereka yang memiliki pengetahuan dan pendidikan lebih tinggi?.

Pertanyaan tersebut bukan tuduhan kepada kelompok tertentu, melainkan refleksi yang ditawarkan cerpen kepada pembacanya.

3. Ketika Budaya Bertemu Kebutuhan Hidup.

Cerpen ini juga membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang hubungan antara budaya, gengsi, kebutuhan ekonomi, dan masa depan keluarga.

Budaya pada dasarnya bukan sekadar rangkaian ritual. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, identitas, penghormatan terhadap leluhur, solidaritas, dan hubungan sosial.

Namun, ketika pelaksanaan suatu tradisi dipandang semata-mata dari besarnya pengeluaran atau prestise yang diperoleh, maka pembaca dapat mempertanyakan kembali tujuan awal dari tradisi tersebut.

Karena itu, pesan cerpen ini lebih tepat dibaca sebagai ajakan untuk menempatkan manusia dan kesejahteraan keluarga sebagai bagian penting dari pertimbangan dalam menjalankan tradisi.

Mempertahankan budaya tidak harus berarti mengabaikan kebutuhan hidup.

Sebaliknya, perubahan pola hidup juga tidak otomatis berarti meninggalkan budaya.

Keduanya dapat berjalan bersama apabila nilai-nilai budaya tetap dipertahankan, sementara bentuk pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masyarakat.

4. Relevansi dengan Kehidupan Publik dan Kepemimpinan.

Pesan cerpen ini juga dapat diperluas ke kehidupan publik.

Dalam kehidupan bernegara, masyarakat sering mendengar berbagai gagasan mengenai pembangunan, kesejahteraan, pelayanan publik, dan peningkatan kualitas hidup.

Pada saat yang sama, masyarakat tentu memiliki hak untuk mempertanyakan apakah kebijakan dan penggunaan sumber daya publik benar-benar memberikan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Dari sudut pandang tersebut, cerpen Bukan Uang Tuyul dapat dibaca sebagai metafora mengenai pilihan antara kehidupan yang berorientasi pada gengsi dan kehidupan yang berorientasi pada manfaat.

Pertanyaan yang muncul kemudian bukan hanya ditujukan kepada keluarga, tetapi juga kepada siapa pun yang memiliki tanggung jawab mengelola sumber daya dan mengambil keputusan bagi kepentingan masyarakat:

Apakah sumber daya yang tersedia lebih banyak diarahkan untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak, atau justru terserap pada hal-hal yang lebih menonjolkan simbol, citra, dan kepentingan tertentu?.

Pertanyaan itu penting sebagai bagian dari kontrol sosial masyarakat.

Namun, setiap dugaan mengenai penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, atau pelanggaran hukum tetap membutuhkan bukti dan proses verifikasi. Cerpen tidak dapat dijadikan bukti untuk menuduh seseorang melakukan tindak pidana.

Dengan demikian, hubungan antara cerpen dan isu kepemimpinan sebaiknya ditempatkan sebagai refleksi sosial, bukan tuduhan terhadap pejabat atau kelompok tertentu.

5. "Bukan Uang Tuyul": Sebuah Metafora.

Judul Bukan Uang Tuyul sendiri menarik untuk direnungkan.

Secara metaforis, judul tersebut dapat dibaca sebagai pertanyaan tentang asal-usul dan penggunaan harta: dari mana uang diperoleh, untuk apa digunakan, dan apakah keberadaannya benar-benar membawa kehidupan yang lebih baik?.

Kekayaan yang digunakan untuk pendidikan, kesehatan, kebutuhan keluarga, dan masa depan anak memiliki makna yang berbeda dengan kekayaan yang hanya digunakan untuk mengejar pengakuan sosial.

Dari sinilah cerpen menghadirkan pesan moral yang cukup kuat:

nilai sebuah kehidupan tidak semata-mata diukur dari seberapa besar seseorang mampu mengeluarkan uang, tetapi dari bagaimana sumber daya yang dimilikinya digunakan untuk menghidupkan dan memberi masa depan.

Penutup.

Pada akhirnya, Bukan Uang Tuyul dapat dibaca sebagai ajakan untuk berani melakukan perubahan.

Bukan perubahan yang berarti meninggalkan budaya, melainkan perubahan cara pandang dalam menempatkan kebutuhan manusia, pendidikan, kesehatan, masa depan keluarga, dan kesejahteraan sebagai bagian penting dari kehidupan.

Cerpen ini juga mengingatkan bahwa sesuatu yang selama ini dianggap biasa belum tentu selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sama.

Begitu pula sesuatu yang dianggap baru atau berbeda tidak selalu berarti salah.

Kalli dan Bela dalam cerpen tersebut menunjukkan bahwa keberanian mengubah cara berpikir dapat membuka jalan bagi masa depan anak-anak mereka.

Pada akhirnya, mungkin inilah pertanyaan terbesar yang ditinggalkan Bukan Uang Tuyul kepada pembacanya:

Apakah kita mempertahankan sebuah kebiasaan karena memang masih memiliki nilai, atau karena kita takut dianggap berbeda ketika memilih jalan yang lebih bermanfaat?

Pertanyaan itu tidak harus dijawab oleh orang lain.

Masing-masing pembaca dapat menjawabnya melalui kehidupan mereka sendiri.

Semoga Bukan Uang Tuyul tidak berhenti sebagai sebuah cerpen, tetapi menjadi ruang refleksi tentang bagaimana budaya, perubahan, pendidikan, ekonomi, dan masa depan keluarga dapat ditempatkan secara seimbang.

Salam SBD Hebat.

SBD memang Hebat.

Tuhan Memberkati.

Penulis Aster Bili Bora.

Editor : Alfons Nedabang

Tayang : senin,14 September 2026. Harian umum Pos Kupang.

Dibedah oleh : Drs. Fredy Malo, M.M. ####

( Red/Yoseph Kalumbang).***

R

Penulis Laporan

Redaksi

Jurnalis NusaAksaraNews yang berfokus pada liputan mendalam nasional.

Lihat Profil

Komentar

0 Tanggapan

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan pada artikel ini.

Komentar
Share WhatsApp