Wewewa Timur,22/8/26 , nusaaksaranews.com — Masyarakat Desa Mata Wee Lima, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur, hingga kini masih bergulat dengan krisis air bersih dan kerusakan infrastruktur jalan yang memprihatinkan. Kondisi ini tidak hanya menghambat potensi ekonomi desa yang melimpah, melainkan juga berdampak langsung pada tumbuh kembang anak-anak di wilayah tersebut,ujar Urbanus Ketua Gapoktan Mawar, desa Mata Wee Lima pada sabtu, 22/8/26, di Kamou, Kec. Wewewa Timur, SBD.
Kendati memiliki tiga titik sumber mata air (DAS), warga setempat justru kesulitan mendapatkan akses air bersih langsung ke rumah tangga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa membeli air tangki berkapasitas 6.000 liter dengan harga mencapai Rp600.000 per tangki. Tinggi harga air ini dipicu oleh sulitnya akses jalan menuju desa, sehingga hanya sedikit penyedia tangki air yang bersedia melintas, ungkapnya.
Ketua UPTD KPH sekaligus Ketua Kelompok Tani Poja, yang berdomisili di Desa Mata Wee Lima, menuturkan, sabtu 22/ 8/ 26, bahwa keterbatasan ini berdampak nyata pada kesehatan fisik anak-anak usia sekolah.Topografi desa yang berada di ketinggian memaksa anak-anak memikul atau menjunjung air dari bawah lembah ke pemukiman setiap hari. Beban fisik yang terus-menerus ini disinyalir berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan fisik anak (stunting) serta mengganggu waktu belajar mereka.
Meski usulan penyediaan sarana air bersih telah berulang kali disampaikan dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes), hingga kini belum ada realisasi konkret di lapangan, tegasnya.
Potensi Ekonomi Melimpah Terkendala Akses Jalan.
Selain krisis air, persoalan infrastruktur jalan kabupaten menjadi kendala utama mobilitas warga. Pejabat Desa Mata Wee Lima, Nikodemus Umbu Diala, mengonfirmasi,22/8/26, bahwa desanya memiliki potensi komoditas pertanian dan perkebunan yang luar biasa, mulai dari porang, jahe, kopi, kakao, kemiri, hingga cengkeh. Namun, potensi ini tidak dapat dipasarkan secara optimal akibat jalanan yang rusak parah.
"Karena ketiadaan moda transportasi yang memadai dan jalan yang rusak, pengusaha enggan masuk ke desa. Akibatnya, warga terpaksa menjual hasil bumi di tempat dengan harga yang sangat rendah," ujar Nikodemus.
Kondisi jalan yang curam dan berlubang juga telah memakan banyak korban jiwa dan luka akibat kecelakaan berkendara. Pihak pemerintah desa telah melayangkan permohonan ke instansi terkait—seperti Dinas PU kabupaten maupun Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi NTT—agar segera melakukan survei dan penanganan teknis, baik berupa pembuatan sumur bor, pemompaan, maupun sistem pipanisasi.
Harapan Warga pada Pemerintah Daerah.
Warga setempat, Oktavianus Malo (Oca), menyampaikan harapannya agar Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya memberikan perhatian khusus terhadap perbaikan fasilitas dasar di Desa Mata Wee Lima. Menurut informasi yang diterima warga, terdapat rencana pengaspalan (hotmix) jalan sepanjang 12 kilometer dari Kilometer 9 hingga Kamouna.
Masyarakat berharap rencana pembangunan jalan tersebut, beserta solusi permanen untuk ketersediaan air bersih dan penerangan, dapat terealisasi pada tahun anggaran mendatang guna memutus rantai isolasi ekonomi dan peningkatan kualitas hidup anak-anak di Desa Mata Wee Lima.@(Red/Yoseph Kalumbang)***