TAMBOLAKA, nusaaksaranews.com — Komisi II DPRD Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Alun-alun Kota Tambolaka dan kawasan Kuliner Center, Senin (27/7/2026). Langkah ini diambil merespons gelombang keluhan masyarakat terkait buruknya kualitas fasilitas di ruang terbuka hijau yang menjadi ikon ibu kota kabupaten tersebut.
Sidak yang berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 13.27 WITA ini dipimpin langsung oleh Ketua Komisi II, Heribertus Pemudadi, S.Sos (Golkar), serta diikuti anggota komisi dari lintas fraksi, yakni PKB, Gerindra, dan Nasdem. Turut diundang dalam pemeriksaan lapangan ini jajaran dari Dinas Pekerjaan Umum (PU), Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi, dan Inspektorat Daerah Kabupaten SBD.
Sorotan Kerusakan dan Lemahnya Pengawasan
Di lokasi, tim gabungan menemukan sejumlah infrastruktur penting dalam kondisi memprihatinkan. Paving block rusak di berbagai titik, trotoar yang tidak rata membahayakan warga yang berolahraga, lampu penerangan padam, hingga kondisi taman yang gersang dan tidak terurus.
Anggota DPRD Dapil 1 Loura, Tobias Dowa Lelu, mengecam buruknya kualitas pengerjaan proyek yang menelan anggaran APBD dalam jumlah besar tersebut.
"Ruang terbuka hijau di pusat kota mestinya ditata lebih baik dan konstruksinya diawasi ketat sejak awal pengerjaan. Dana APBD digelontorkan begitu besar, namun fasilitas di dalamnya sungguh mengecewakan," tegas Tobias.
Senada dengan hal itu, anggota DPRD dari Fraksi Gerindra, Thomas Bulu, mempertanyakan ketegasan pengelolaan kebersihan dan penerangan kawasan.
"Pohon-pohon taman layu, bunga - bunga mati, kebersihan tidak terurus padahal sudah ada instansi penanggung jawabnya. Siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas penerangan dan kebersihan di ruang terbuka hijau ini?" ujar Thomas.
Tanggapan Dinas: Masa Pemeliharaan Habis dan Terbentur Anggaran.
Menjawab tudingan terkait kerusakan fisik, Kepala Dinas PU SBD, Bangun Munthe, menjelaskan bahwa secara regulasi masa pemeliharaan oleh pihak kontraktor (CV/PT) telah usai. Kendati demikian, pihak dinas akan berupaya mengimbau kontraktor untuk melakukan perbaikan atas dasar tanggung jawab moral.
"Kami akan imbau rekan-rekan kontraktor secepatnya membenahi kerusakan. Jika tidak, tentu track record kontraktor bersangkutan akan menjadi catatan tersendiri bagi kami," ujar Bangun.
Terkait plafon bangunan yang jebol dan armature lampu yang jatuh, Kepala Inspektorat SBD menegaskan bahwa perbaikan komprehensif memerlukan penganggaran ulang pada APBD berikutnya karena masa pemeliharaan penyedia jasa telah berakhir.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata SBD mengakui adanya ketidakjelasan pembagian kewenangan pengoperasian penerangan di alun-alun, yang diperparah oleh efisiensi dan keterbatasan anggaran operasional.
Kuliner Center Sepi Pembeli, Pelaku Usaha Minta Evaluasi Parkir.
Kondisi tak kalah menprihatinkan terlihat di area Kuliner Center. Menurut Kadis Koperasi SBD, Yengo Tanda Kawi, sepinya pusat kuliner tersebut dipengaruhi oleh lemahnya peningkatan SDM, daya beli masyarakat yang menurun akibat efisiensi, serta dinamika pembentukan karakter kewirausahaan.
Namun, pengakuan berbeda disampaikan oleh pedagang setempat. Siti, salah satu pelaku usaha yang bertahan, mengungkapkan pendapatan para pedagang merosot tajam sejak diberlakukannya sistem tarif parkir.
"Dalam semalam paling banyak hanya laku lima porsi, modal pun belum kembali. Pembeli sepi sejak ada pungutan karcis parkir. Sekarang hanya tersisa dua pedagang yang bertahan di malam hari," keluh Siti. Ia berharap pemerintah meninjau kembali tarif parkir dan memprioritaskan pembayaran secara manual.
Langkah Komisi II: Dorong Pembahasan Khusus dan Malam Budaya.
Menutupi rangkaian sidak, Ketua Komisi II DPRD SBD, Heribertus Pemudadi, S.Sos., menegaskan bahwa temuan di lapangan akan langsung dibawa ke forum rapat kerja DPRD bersama Pemerintah Kabupaten SBD.
Sebagai solusi jangka pendek guna menghidupkan kembali perekonomian warga, Komisi II merekomendasikan penyelenggaraan pentas seni atau Malam Budaya secara rutin.
"Meskipun kita menghadapi kendala efisiensi anggaran, Alun-alun harus tetap ditata indah. Kami mendorong minimal dua kali seminggu diadakan kegiatan seni atau grup musik di Kuliner Center. Dengan begitu, perputaran ekonomi warga akan bergairah kembali," pungkas Heribertus.( Red/ Yoseph Kalumbang)***