HARI TANI NASIONAL KE-66: PETANI DIDORONG MASUK RANTAI PASOK MBG, AKSES BIBIT DAN PUPUK TERUS DIKAWAL.

Oleh: Redaksi
Sabtu, 26 Sep 2026 | 02:12 WITA 4 menit baca 15 dibaca
HARI TANI NASIONAL KE-66: PETANI DIDORONG MASUK RANTAI PASOK MBG, AKSES BIBIT DAN PUPUK TERUS DIKAWAL.
Ketum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir. Sumber: Nusaaksaranews.com

LEBAK, BANTEN. 26/09/26, nusaaksaranews.com — Peringatan Hari Tani Nasional ke-66 di Kabupaten Lebak, Banten, tidak hanya menjadi ruang perayaan bagi petani. Momentum tersebut juga digunakan Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Tani Merdeka Indonesia (TMI) untuk mendorong agar petani memiliki posisi yang lebih kuat dalam agenda ketahanan pangan nasional, termasuk dalam rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Lebih dari 2.000 petani menghadiri Orasi Kebangsaan Hari Tani Nasional yang digelar DPN Tani Merdeka Indonesia di Alun-alun Timur Kabupaten Lebak, Banten, pada kamis, 24 September 2026.

Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, mengatakan produksi pertanian lokal memiliki peluang untuk menjadi bagian dari rantai pasok pangan MBG.

“Petani punya peran besar dalam mendukung MBG. Hasil panen lokal bisa diserap untuk memenuhi kebutuhan pangan program ini,” ujar Don Muzakir.

Namun, menurut Don, peluang tersebut harus diikuti dengan mekanisme penyerapan yang jelas. Peningkatan kebutuhan pangan untuk program nasional, kata dia, semestinya juga membuka ruang pasar yang lebih nyata bagi produk petani.

Di sinilah persoalan rantai pasok menjadi penting.

Ketika program pangan berskala nasional membutuhkan pasokan dalam jumlah besar, pertanyaannya bukan hanya mengenai ketersediaan pangan, tetapi juga bagaimana produk petani lokal dapat masuk ke dalam sistem pengadaan, memenuhi standar yang ditetapkan, memperoleh kepastian pasar, dan mendapatkan manfaat ekonomi yang layak.

Don Muzakir menyebut koperasi dapat memainkan peran sebagai salah satu penghubung antara petani dan kebutuhan pangan MBG.

“Koperasi juga bisa menghubungkan petani dengan kebutuhan MBG. Jadi, manfaatnya bisa dirasakan anak-anak sekaligus petani,” katanya.

BUKAN HANYA SOAL PASAR.

Dorongan agar petani masuk dalam rantai pasok MBG tidak dapat dilepaskan dari persoalan dasar produksi pertanian.

Don Muzakir menegaskan bahwa akses terhadap bibit, pupuk, dan lahan masih menjadi perhatian Tani Merdeka Indonesia.

“Yang tidak kalah penting adalah bagaimana petani mendapatkan akses terhadap bibit, pupuk, dan lahan. Ini harus terus menjadi perhatian,” ujar Don.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perluasan pasar tanpa dukungan terhadap produksi berpotensi menghadirkan persoalan tersendiri. Petani memang dapat didorong untuk memasok kebutuhan pangan dalam jumlah lebih besar, tetapi kemampuan memenuhi permintaan tersebut tetap bergantung pada ketersediaan sarana produksi dan akses terhadap lahan.

Karena itu, pembicaraan mengenai keterlibatan petani dalam MBG tidak cukup berhenti pada persoalan penyerapan hasil panen.

Pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang dapat menghubungkan petani dengan pasar, bagaimana mekanisme pengadaannya, bagaimana standar kualitas diterapkan, dan apakah petani memperoleh kepastian pembayaran serta manfaat ekonomi dari rantai pasok tersebut?.

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting karena keberhasilan sebuah program pangan nasional pada akhirnya tidak hanya diukur dari tersedianya bahan pangan, tetapi juga dari sejauh mana pelaku produksi di tingkat bawah dapat terlibat dalam ekosistem tersebut.

TMI KLAIM TERUS MENGAWAL KEPENTINGAN PETANI.

Don Muzakir juga mengatakan bahwa Tani Merdeka Indonesia selama hampir dua tahun terakhir turut mengawal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam memperjuangkan sejumlah kebutuhan petani.

Menurut Don, akses terhadap bibit, pupuk, dan lahan merupakan persoalan yang tetap perlu mendapatkan perhatian dalam pelaksanaan agenda ketahanan pangan.

Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan TMI pada posisi untuk terus mengawal agar kebijakan pangan nasional tidak berhenti pada target produksi dan ketersediaan pangan, tetapi juga memperhatikan posisi petani sebagai pelaku utama produksi.

Namun, antara kebijakan nasional dan kondisi petani di lapangan terdapat persoalan implementasi yang tidak sederhana.

Program pangan berskala nasional membutuhkan pasokan yang teratur, kualitas yang memenuhi standar, distribusi yang efisien, serta kelembagaan yang mampu menghubungkan produsen dengan pengguna.

Karena itu, apabila petani lokal ingin dilibatkan dalam rantai pasok MBG, diperlukan mekanisme yang jelas dan transparan mengenai proses pengadaan, persyaratan pemasok, standar produk, volume kebutuhan, harga, pembayaran, serta kelembagaan yang menjadi penghubung.

Dalam konteks tersebut, koperasi yang disebut Don Muzakir bukan sekadar lembaga penghimpun hasil produksi. Koperasi dapat menjadi simpul yang mengorganisasi petani, menghimpun produk, menjaga kualitas, dan menghubungkan produksi dengan kebutuhan pasar sesuai ketentuan yang berlaku.

HARI TANI: ANTARA PRODUKSI DAN MANFAAT EKONOMI.

Peringatan Hari Tani Nasional ke-66 di Lebak akhirnya membawa kembali persoalan klasik pertanian ke tengah agenda pangan nasional: petani menghasilkan pangan, sementara negara membutuhkan pangan dalam skala besar.

Tantangannya adalah bagaimana hubungan tersebut dibangun sehingga petani tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai pangan.

MBG membuka peluang kebutuhan pangan dalam skala besar. Namun, peluang tersebut baru akan bermakna bagi petani apabila terdapat akses produksi, kelembagaan, pasar, serta mekanisme penyerapan yang dapat dijalankan secara transparan dan berkelanjutan.

Demikian pula dengan bibit, pupuk, dan lahan. Ketiganya bukan sekadar isu pendukung, melainkan bagian penting dari kemampuan petani meningkatkan produksi.

Karena itu, momentum Hari Tani Nasional ke-66 seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan pernyataan politik organisasi.

Ukuran yang lebih konkret berada pada pertanyaan berikutnya: sejauh mana petani benar-benar memperoleh akses terhadap sarana produksi, dan sejauh mana produksi mereka dapat terserap dalam pasar pangan nasional seperti MBG?

Bagi Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir mengatakan pengawalan terhadap kepentingan petani akan terus dilakukan.

Petani menghasilkan pangan. Negara membutuhkan pangan. Tantangannya adalah memastikan hubungan antara keduanya dibangun melalui sistem yang transparan, berkelanjutan, dan memberikan ruang yang nyata bagi petani dalam rantai pasok pangan nasional.@

(Yoseph Kalumbang).***

R

Penulis Laporan

Redaksi

Jurnalis NusaAksaraNews yang berfokus pada liputan mendalam nasional.

Lihat Profil

Komentar

0 Tanggapan

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan pada artikel ini.

Komentar
Share WhatsApp