BIMTEK KOPI DI SUMBA BARAT DAYA DORONG MODERNISASI, PRODUKTIVITAS, MUTU, HILIRISASI DAN KESEJAHTERAAN PETANI.

Oleh: Redaksi
Selasa, 22 Sep 2026 | 11:13 WITA 5 menit baca 154 dibaca
BIMTEK KOPI DI SUMBA BARAT DAYA DORONG MODERNISASI, PRODUKTIVITAS, MUTU, HILIRISASI DAN KESEJAHTERAAN PETANI.
Novie Pranata Erdiansyah, SP, M.Si. Sumber: Nusaaksaranews.com

SUMBA BARAT DAYA, 22 SEPTEMBER 2026 , nusaaksaranews.com — Pengembangan komoditas kopi di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, mulai diarahkan pada peningkatan sumber daya manusia, modernisasi budidaya, produktivitas, mutu, hilirisasi, serta peningkatan nilai ekonomi bagi petani.

Arah tersebut mengemuka dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Budidaya Kopi Kabupaten Sumba Barat Daya yang digelar di Desa Lagalete, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Selasa (22/9/2026).

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh DPD Tani Merdeka Indonesia SBD yang dikomandoi Kristina Bili. Dibuka oleh Robi Darmawan, Kepala Balai BPPSDMP(Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian), dan dihadiri antara lain oleh Bogar, Kepala Sekolah SMKPPN Kupang, Kasi Penyuluh Pertanian Provinsi NTT, Jose De A. Freites, S.Pt., Katimker SBD, serta Kabid Pertanian Sumba Barat Daya.

Salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut, Novi Pranata, peneliti agronomi kopi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, menyampaikan bahwa Sumba Barat Daya memiliki potensi untuk mengembangkan komoditas kopi.

Namun, menurut Novi, potensi tersebut perlu didukung dengan perubahan pola budidaya yang disesuaikan dengan kondisi agroklimat dan karakter lingkungan setempat.

Budidaya Masih Perlu Ditingkatkan.

Novi menjelaskan, berdasarkan pengamatan awal di lapangan, sebagian pola budidaya kopi masyarakat masih dilakukan secara sederhana dan turun-temurun.

Menurut dia, tanaman kopi pada sebagian kebun ditanam kemudian dibiarkan tumbuh hingga menghasilkan buah untuk dipanen.

Pola tersebut, kata Novi, belum memungkinkan produktivitas tanaman dicapai secara maksimal.

Karena itu, ia mendorong penerapan Good Agricultural Practices (GAP) melalui pengelolaan kebun yang lebih terukur. Hal tersebut antara lain mencakup pemilihan tanaman, pemupukan, pengaturan tanaman penaung, jarak tanam, serta teknik pemeliharaan tanaman.

“Yang kita lihat, budidayanya masih secara lokal dan turun-temurun. Kalau seperti itu, produktivitas kopi tidak bisa maksimal,” kata Novi dalam pemaparannya.

Produktivitas dan Peluang Nilai Ekonomi.

Novi juga menyoroti peluang ekonomi komoditas kopi. Ia menyebut harga kopi yang diterimanya sebagai gambaran dalam pemaparan berada pada kisaran Rp70.000 hingga Rp80.000, sedangkan kopi dengan kualitas tertentu disebut dapat mencapai sekitar Rp90.000.

Menurut Novi, harga yang relatif menarik tersebut perlu diikuti peningkatan produktivitas dan mutu agar potensi nilai ekonomi komoditas dapat dirasakan lebih besar oleh petani.

Ia memberikan contoh bahwa produktivitas kopi jenis Robusta yang sebelumnya sekitar 700 kilogram per hektare menurut pemaparannya dapat ditingkatkan hingga sekitar 1,5 ton per hektare melalui penerapan teknik budidaya yang lebih baik.

Bagi Novi, peningkatan produktivitas tidak hanya berkaitan dengan jumlah produksi, tetapi juga berhubungan dengan peluang peningkatan pendapatan petani apabila didukung mutu dan pengelolaan hasil yang baik.

Robusta dan Arabika Harus Disesuaikan dengan Kondisi Wilayah.

Novi juga menjelaskan bahwa pengembangan kopi perlu mempertimbangkan karakter masing-masing jenis kopi.

Menurutnya, Robusta memiliki peluang dikembangkan pada wilayah dengan kondisi yang sesuai di dataran lebih rendah, sementara Arabika umumnya dikembangkan pada wilayah dengan ketinggian lebih tinggi.

Karena itu, menurut Novi, pemilihan jenis kopi tidak dapat dilakukan secara seragam. Faktor ketinggian, iklim, tanah dan kondisi lingkungan perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan teknologi serta pola budidaya.

“Teknologi yang diterapkan di satu daerah belum tentu bisa langsung diterapkan di daerah lain,” kata Novi.

Belajar dari Negara Produsen.

Dalam pemaparannya, Novi juga mengajak peserta mempelajari perkembangan budidaya kopi di sejumlah negara produsen, termasuk Brasil dan Vietnam.

Menurut dia, pengalaman negara-negara tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran dalam pengembangan kopi di Indonesia. Namun, teknologi maupun sistem budidayanya tidak dapat diterapkan begitu saja karena setiap wilayah memiliki kondisi iklim dan lingkungan yang berbeda.

Novi mencontohkan sistem penanaman dengan jarak rapat yang diterapkan di sejumlah wilayah penghasil kopi. Menurutnya, penerapan sistem tersebut tetap perlu disesuaikan dengan karakter lingkungan dan kondisi kebun di daerah setempat.

Hal serupa berlaku pada pengaturan tanaman penaung yang, menurut Novi, perlu diperhatikan karena berkaitan dengan kondisi pertumbuhan tanaman dan kualitas hasil kopi.

Pengembangan Berbasis Kondisi Lokal.

Novi menekankan bahwa pengembangan kopi di Sumba Barat Daya perlu diawali dengan pemahaman terhadap kondisi lokal.

Sebelum menentukan rekomendasi budidaya, menurutnya, kondisi kebun, lingkungan, pola budidaya petani, serta karakter tanaman yang telah berkembang perlu terlebih dahulu diamati.

Dari hasil pengamatan tersebut kemudian dapat disusun rekomendasi mengenai teknik budidaya, pemupukan, pengaturan penaungan, jarak tanam dan aspek agronomi lainnya.

Pendekatan berbasis kondisi lokal tersebut, menurut Novi, diperlukan agar modernisasi budidaya tidak sekadar memindahkan teknologi dari daerah atau negara lain, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter wilayah Sumba Barat Daya.

Dari Produksi Menuju Mutu dan Hilirisasi.

Novi menilai pengembangan kopi tidak berhenti pada peningkatan produksi di tingkat kebun. Menurutnya, produktivitas perlu berjalan bersama dengan peningkatan mutu sehingga komoditas kopi memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dalam konteks tersebut, peningkatan sumber daya manusia petani menjadi salah satu bagian penting. Petani perlu memahami teknik budidaya, pemeliharaan tanaman, pengelolaan hasil serta aspek mutu agar pengembangan kopi tidak hanya berorientasi pada produksi.

Menurut Novi, peningkatan mutu juga membuka peluang pengembangan hilirisasi, mulai dari pengolahan hingga pemasaran, sehingga nilai tambah komoditas dapat dikembangkan lebih jauh.

Ia melihat peluang tersebut sebagai bagian dari upaya mengembangkan kopi sebagai komoditas yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan petani di Sumba Barat Daya.

Menurut Novi, apabila pengembangan kopi dilakukan melalui penerapan teknik budidaya yang sesuai, peningkatan produktivitas, perbaikan mutu serta pengembangan pengolahan, maka potensi ekonomi komoditas tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut.

Dengan demikian, kata Novi, tantangan pengembangan kopi bukan semata-mata bagaimana menanam dan memanen, tetapi juga bagaimana meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, menerapkan modernisasi budidaya yang sesuai kondisi lokal, meningkatkan produktivitas dan mutu, serta mengembangkan hilirisasi secara berkelanjutan.@

(Red/Yoseph Kalumbang).***

R

Penulis Laporan

Redaksi

Jurnalis NusaAksaraNews yang berfokus pada liputan mendalam nasional.

Lihat Profil

Komentar

0 Tanggapan

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan pada artikel ini.

Komentar
Share WhatsApp