Tambolaka, 18/09/26, nusaaksaranews.com — Saat kecil, kita mungkin pernah bermain “tutup mata”.
Seorang pemain menutup matanya dengan kain, kemudian berusaha menemukan teman-temannya dengan cara meraba atau menangkap. Ruang gerak dibatasi oleh teman-teman lain yang menjadi semacam “pagar”.
Si pencari harus berusaha menemukan sasarannya. Jika menyerah sebelum berhasil, permainan dianggap selesai dan giliran pun berganti. Yang semula mencari menjadi yang dicari, begitu pula sebaliknya.
Maaf, saya jadi bernostalgia dengan permainan masa kecil.
Lalu, apa hubungannya dengan tulisan ini?
“Tutup mata” yang saya maksud bukan permainan. Ini adalah sebuah metafora untuk menggambarkan situasi ketika sebuah program direncanakan dan dijalankan tanpa melihat secara utuh persoalan di lapangan.
Bukan berarti setiap program pemerintah demikian. Tidak.
Namun, pertanyaan kritisnya sederhana: apakah setiap program benar-benar lahir dari kebutuhan masyarakat, atau terkadang lebih dahulu lahir dari gagasan, kemudian masyarakat diminta menyesuaikan diri?
Sebab program yang baik tidak cukup hanya memiliki anggaran dan nama yang menarik.
Ia membutuhkan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi, serta keberlanjutan.
Jangan sampai sebuah program berjalan hanya karena ada instruksi dari atas, sementara persoalan kesiapan pelaksana, kemampuan pengelola, kebutuhan masyarakat, dan keberlanjutan program belum benar-benar diperhitungkan.
Kalau begitu, kita bukan sedang merencanakan masa depan.
Kita sedang mencoba mencari jalan sambil “tutup mata”.
Perencana yang Handal
Menurut saya, perencana, pemimpin, dan pejabat yang baik bukan hanya mereka yang mampu melahirkan gagasan besar.
Yang jauh lebih penting adalah kemampuan menjawab pertanyaan sederhana:
Mengapa program ini harus dilakukan?.
Dan pertanyaan berikutnya:
Apakah program ini benar-benar siap dijalankan?.
Setidaknya ada dua prinsip penting.
1. Menjawab “Mengapa” — The Why.
Sebuah program semestinya berangkat dari persoalan yang jelas dan kebutuhan yang dapat dijelaskan dengan data.
Mengapa program itu diperlukan?.
Siapa yang akan menerima manfaat?.
Apa masalah yang hendak diselesaikan?.
Dan yang tidak kalah penting: bagaimana memastikan program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat atau seremoni, tetapi memiliki manfaat dalam jangka panjang?.
Program pemerintah bukan sekadar soal melaksanakan kegiatan.
Ukuran pentingnya adalah manfaat yang dirasakan masyarakat.
2. Efisiensi dan Kesiapan Sumber Daya.
Anggaran, waktu, sumber daya manusia, dan kapasitas pelaksana perlu dihitung secara realistis.
Sebab program yang bagus di atas kertas belum tentu bagus ketika diterapkan di lapangan.
Ada sedikitnya lima hal yang patut menjadi perhatian.
a. Kemampuan Manajerial.
Apakah pengelola memiliki kemampuan untuk menjalankan program secara profesional dan berkelanjutan?.
Apakah mereka mendapatkan pelatihan yang memadai?.
Apakah pembagian tugas dan tanggung jawabnya jelas?.
Dan yang paling penting, apakah penunjukan pengelola didasarkan pada kompetensi, kapasitas, dan integritas?.
Pengelolaan program publik semestinya tidak hanya mempertimbangkan siapa yang dekat dengan pengambil keputusan, tetapi terutama siapa yang memang memiliki kemampuan untuk menjalankannya.
b. Integritas dan Nilai Moral.
Program yang menggunakan sumber daya publik membutuhkan pengelola yang menjunjung kejujuran, transparansi, tanggung jawab, dan akuntabilitas.
Sebab sehebat apa pun sebuah program, jika tata kelolanya lemah, tujuan yang baik dapat kehilangan makna.
Karena itu, rekam jejak, kompetensi, dan integritas semestinya menjadi pertimbangan penting dalam memilih pengelola.
c. Evaluasi Program Sebelumnya.
Sebelum meluncurkan program baru, mengapa tidak belajar terlebih dahulu dari program yang sudah pernah dilaksanakan?.
Mana yang berhasil?.
Mana yang tidak berjalan?.
Apa penyebabnya?.
Apakah persoalannya terletak pada perencanaan, anggaran, sumber daya manusia, pengawasan, atau faktor lainnya?.
Evaluasi bukan tanda kegagalan.
Justru evaluasi adalah cara untuk mencegah kegagalan yang sama terulang kembali.
Kalau persoalan mendasar program sebelumnya belum diselesaikan, bukankah masuk akal jika desain program berikutnya terlebih dahulu diperbaiki?.
d. Jiwa Kewirausahaan.
Pengelola program juga perlu memiliki cara berpikir inovatif dan berorientasi pada hasil.
Bukan sekadar bagaimana anggaran terserap, tetapi bagaimana kegiatan tersebut menghasilkan manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Serapan anggaran penting.
Tetapi manfaat bagi masyarakat jauh lebih penting untuk dipertanyakan.
e. Mental Tangguh.
Program yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat tentu menghadapi berbagai tantangan.
Karena itu, pengelola membutuhkan kemampuan beradaptasi, keberanian melakukan evaluasi, serta kemauan memperbaiki kekurangan.Jangan mudah puas hanya karena program telah diluncurkan.
Sebab peluncuran adalah awal pekerjaan, bukan akhir dari pekerjaan.
Jangan Sampai “Tutup Mata”
Saya percaya para perencana, pemimpin, dan pejabat memiliki gagasan serta niat untuk menghadirkan program yang bermanfaat bagi masyarakat.
Karena itu, kritik terhadap sebuah program seharusnya tidak selalu dipandang sebagai serangan.
Kadang-kadang kritik justru diperlukan agar sebuah kebijakan tidak berjalan tanpa koreksi.
Pertanyaannya bukan siapa yang paling hebat.
Pertanyaannya adalah: apakah program yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat?.
Apakah anggarannya dikelola secara efektif?.
Apakah pelaksananya siap?.
Apakah ada evaluasi?.
Dan apakah manfaatnya dapat bertahan setelah seremoni selesai?.
Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan program yang terdengar hebat.
Masyarakat membutuhkan program yang bekerja.
Jangan sampai kita terlalu sibuk membuat program, tetapi lupa memastikan program tersebut benar-benar memberikan hasil.
Jangan sampai perencana, pemimpin, maupun pejabat justru “tutup mata” terhadap persoalan yang ada di depan mata.
Sebab ketika mata ditutup, yang terlihat mungkin hanya gelap.
Tetapi ketika mata dibuka, barangkali kita bisa melihat apa yang selama ini luput dari perhatian.
Semoga tidak demikian.
Salam SBD Hebat.
SBD Memang Beda.
Tuhan Memberkati.@
( Red/Yoseph Kalumbang).***